Mengenal Arti Ukiran yang Ada di Tubuh Suku Asli Biak

BIAK – Datang ke Biak, Papua khususnya di bagian pedalaman maka para travelers akan mudah menemukan sejumlah masyarakat memiliki ukiran yang terdapat pada bagian seluruh tubuhnya. Tentunya, ukiran tersebut memiliki arti tersendiri bagi masyarakat Biak.

Budayawan Biak Hosea Mirino mengatakan bahwa ukiran yang ada pada tubuh masyarakat Biak melambangkan 9 suku yang ada di Biak itu sendiri, sehingga setiap suku memiliki ciri khas untuk mudah diketahuinya.

“Corak tersebut merupakan tato bermakna, di mana mempunyai arti yang melambangkan 9 suku asli yang ada di Biak. Namun, memiliki keberagaman serta keseragaman yang sama, mulai dari Suku Barisena, Suku Sambe hingga yang lainnya dan arti corak tersebut bukan hanya melambangkan suku saja melainkan melambangkan 9 dialek atau bahasa yang dimiliki oleh 9 suku tersebut,” ucapnya di Biak, Papua, Rabu (3/7/2019).

Menurutnya, meskipun memiliki ukiran maupun corak yang berbeda di setiap tubuh suku asli di Biak, namun kesemua suku pasti memiliki tiga warna yang menjadi ciri khas Biak, Papua. Dari tato yang dimuat di dalam badan tersebut mempunyai tiga warna yakni merah, hitam dan putih artinya berani hidup setia sampai mati. Merah artinya berani, hitam penuh dengan kepastian dan putih melambangkan kesucian atau hati yang bersih maupun kesetiaan,” bebernya.

Tak itu saja, dari semua ukiran yang ada di tubuh suku asli Biak maka hanya bagian muka dan tangan saja memiliki arti yang memaknai diri orang tersebut. Di bagian muka misalnya terdapat ukiran memanjang yang berada di dahinya, maka dilambangkan sebagai pekerja keras, lalu ada juga yang berbentuk seperti wing di bagian di bawah mata. Di sini, memiliki arti selalu memperhatikan keluarga maupun saudara-saudaranya, sementara di bagian pipi hanya sebatas variasi saja atau untuk melengkapi ke seluruh bagian tubuh termasuk di bagian kaki maupun badannya.

“Pada bagian tangan dekat dengan telapak tangan terdapat logo panah (>) artinya melambangkan ekor ikan, pasalnya Biak merupakan wilayah Kepulauan yang ada di Papua. Sementara bagian atas pada tangan terdapat lambang (^) bahwa ini membuktikan orang tersebut sering mengayuh dayung dengan jarak yang cukup panjang sehingga ketika tiba di suku tersebut maka diberikan corak maupun ukiran tersebut.

Terakhir adalah perihal pakaian yang digunakan baik laki-laki maupun perempuan. Untuk kaum laki-laki, maka pakaian berada di bagian celana saja. Sementara untuk perempuan melingkupi seluruh tubuh terkecuali tangan, dan kaki. Pakaian untuk lak-laki dan perempuan dinamakan cidako atau dalam bahasa Biak yaitu fmar.

“Pakaian pada laki-laki ada dua jenis yakni yang terbuat dari kain merupakan hasil modifikasi, sedangkan yang masih tradisional terbuat dari kayu. Lalu, pada pakaian perempuan dibuat dari batang pandan yang dikeringkan. Sebagai pelengkap terdapat topi atau memaknai mahkota kepala, dalam bahasa Biak dinamakan asisom,” tukasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *