Menguatkan Budaya Membingkai Pesona di Festival Biak Muara Wampasi 2019

IndonesiaNew, BIAK – Kekuatan budaya menjadi nilai utama di Kepulauan Biak, Papua. Oleh karenanya kabupaten kepulauan ini menghadirkan Festival Biak Muara Wampasi untuk mengenalkan budaya yang ada di Kepulauan Biak. Kehadiran festival ini diharapkan mampu menambah pasokan wisatawan mancanegara ke Indonesia.

Festival Biak Muara Wampasi 2019 ini sudah memasuki event pariwisata ke-7, untuk tahun ini festival tersebut mengangkat tema menguatkan budaya membingkai pesona. Apalagi, Sekretaris Daerah Kepulauan Biak, Papua Markus Mansnebra mengutarakan bahwa festival ini sudah masuk ke dalam kalender nasional kementerian npariwisata sehingga diharapkan bisa menjadi daya tarik baru bagi Indonesia Timur. Tahun 2020, festival ini kembali ndiadakan.

“Dengan melihat antusias dari masyarakat dan wisatawan yang cukup besar maka pertumbuhan perekonomian masyarakat bisa tumbuh dan meningkat, oleh karenanya kami siap menghadirkan festival ini di tahun 2020 semakin semarak,” ucapnya di Pantai Kampung Sansundi, Distrik Bondifuar, Papua, Selasa (2/6/2019).

Diakuinya, meski masih banyak kekurangan namun pihaknya menyadari dengan benar bahwa banyak yang harus dibenahi sehingga mampu menghadirkan festival berskala internasional. Tujuannya adalah menambah pasokan wisatawan ke Biak.

“Dari data yang kami miliki bahwa tahun kemarin festival ini dihadiri 84 orang wisatawan mancanegara, sementara untuk wisatawan nusantara 12 ribu. Dengan melihat jumlah inilah, maka kami semakin terpacu untuk meningkatkan kunjungan wisatawan untuk datang ke Biak,” paparnya.

Tak itu saja, kehadiran pariwisata semakin membuka mata masyarakat untuk senantiasa mengubah haluan dari bidang kelautan di mana masyarakatnya lebih banyak bekerja sebagai nelayan kini perlahan mulai berfokus kepada pariwisata.

“Sebagian besar masyarakat di Biak sudah semakin sadar bahwa pariwisata membawa dampak yang baik terlebih dengan mengutip ungkapan Menteri Pariwisata Arief Yahya bahwa pariwisata semakin dilestarikan semakin mensejahterahkan. Hal tersebut, semakin nyata bahwa pariwisata bisa memberikan dampak besar bagi perekonomian selain sebagai nelayan,” bebernya lagi.

Di sisi lain, Anggota Calender of Event Kementerian Pariwisata Raseno Arya menambahkan bahwa festival ini juga semakin memperlihatkan keberadaan pariwisata Indonesia dari sisi yang lain yakni sisi budaya.

“Biak menjadi salah satu pulau paling indah di Indonesia Timur selain kekayaan alam, ada juga pulau tiga warna. Kita melihat bahwa kekuatan budaya sangat menonjol sehingga sangat layak untukn dipelihara dan dilestarikan, nuansa budaya juga harus lebih dikentalkan lagi. Apalagi, Biak memiliki toleransi beragama yang kuat sehingga bisa membawa kenyamanan pada wisatawan yang dilakukan oleh masyarakat,” urainya.

Dengan melihat latar belakang sebelumnya, di mana di tahun 90an Biak pernah didaratkan maskapai asing yang bertujuan ke Honolulu maupun Jepang. Oleh karenanya, perlu dihidupkan kembali sehingga Kepulauan Biak semakin dikenal kembali atas keindahan alam yang dimilikinya.

“Anda lihat saja, selain pesawat atr dan bombardier maka pesawat boeing sudah mendarat di Bandara Biak artinya pasokan wisatawan yang datang juga semakin besar dan mudah untuk menikmati pariwisatanya. Belum lagi, Biak memiliki wisata sejarah di dalamnya salah satunya adalah goa Jepang,” tukasnya.

Dalam festival yang diadakan dari tanggal 1 hingga 6 Juli 2019 menghadirkan snap mor yang merupakan menangkap ikan secara tradisional khas Kepulauan Biak dengan menggunakan tombak yang dibagian ujungnya diberikan besi putih berbentuk runcing, lalu ada perlombaan diving, memancing, Parade Budaya Wairon, Parade Budaya Word an Yospan lalu ada pula pesona kuliner makan papeda, makan keladi hingga makan ikan hingga Padaida tour yang melintasi Pulau Rasi, Pulau Urbi dan Pulau Yensama yang diikuti ratusan peserta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *