Pesan Kiai Ma’aruf Amin untuk Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia

IndonesiaNew, JAKARTA – Sebagai Negara Kepulauan yang memiliki laut yang luas dan garis pantai yang panjang, sektor maritim dan kelautan menjadi sangat strategis bagi Indonesia ditinjau dari aspek ekonomi dan lingkungan, sosial-budaya, hukum dan keamanan. Untuk itu pada tahun 2014-2019 pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla mengusung tema mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia untuk memaksimalkan dalam pemanfaatan Kemaritiman Indonesia yang sangat luas.

Tema dari Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia tersebut berlandaskan pada tiga (3) pilar yakni Kedaulatan, Keberlanjutan, dan Kesejahteraan. Selama lima (5) tahun dari tahun 2014 hingga 2019, Pemerintah telah melakukan segala upaya untuk dengan secepatnya melaksanakan amanah dan program Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, namun masih banyak terkendala hingga kami yakini hanya tercapai pada dua (2) pilar saja yakni Kedaulatan dan Keberlanjutan. Sementara aspek terakhir dari tiga (3) pilar Poros Maritim Dunia, yaitu Kesejahteraan, belum dapat direalisasikan secara maksimal.

Terpilihnya Ir. Joko Widodo bersama dengan Prof. Dr. Ma’aruf Amin, sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia untuk periode tahun 2019-2024 diharapkan mampu mendorong terwujudnya pilar ‘Kesejahteraan’ bagi masyarakat maritim Indonesia.

Kehadiran Kiai Ma’aruf Amin yang membawa arah baru pada visi pembangunan Poros Maritim Dunia dengan menekankan pada “Arus Baru Ekonomi Indonesia” memberikan harapan dan mengembalikan semangat untuk membangun maritim dengan memanfaatkan potensi sumberdaya alam kelautan dan perikanan untuk kesejahteraan masyarakat

“Dalam tahun 2014-2019 periode pertama kepemimpinan Bapak Jokowi-JK telah meletakan pondasi dengan membangun infrastruktur dan pendidikan. Atas dasar itu, Saya berkomitmen untuk mendorong perluasan pencapaian , terutama dalam rangka menciptakan pemerataan kesejahteraan antar kelompok masyarakat dan antar wilayah,” jelas Kiai Ma’aruf Amin, saat memberikan sambutannya di acara “Silaturahmi Nasional” Komunitas Maritim Indonesia (KOMMARI) di Ballroom Puri Agung Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta Pusat, Kamis (18/7/2019).

Menurut istilah Ma’aruf Amin, apa yang dilakukan Jokowi itu dengan Nawa Cita-nya merupakan Arus Baru Indonesia. “Ini diwujudkan oleh beliau dengan memaksimalkan manfaat terhadap sumberdaya alam di seluruh Indonesia dimana sektor Industri menjadi penggerak utama ekonomi Indonesia,” imbuhnya.

Sementara untuk meningkatkan kontribusi ekonomi sektor Industri, maka di periode pertama kepemimpinannya, Presiden Jokowi juga meluncurkan program Revolusi Industri 4.0. Program ini harus dimaksimalkan dengan kemajuan teknologi harus bisa dimanfaatkan dan dipergunakan sebaik-baiknya untuk membangun kehidupan bangsa yang sejahtera tanpa menghilangkan landasan tradisi dan landasan negara.

Ma’aruf Amin, ‘Arus Baru Ekonomi’ yang disertai dengan arus budaya dan pendidikan harus bisa mewujudkan Kedaulatan Ekonomi, Kedaulatan Pangan, Kedaulatan UMK, Kedaulatan Sumberdaya dan Kedaulatan Industri yang didampingi oeh Pendidikan Modern dan Pluralisme.

“Sebagai salah satu elemen bangsa di bidang maritime, KOMMARI harus bisa memahami apa itu arus baru ekonomi, kemudian berperan dalam mewujudkannya secara Mandiri dengan tidak bergantung pada pihak lain, apalagi pemerintah,” kata Ma’aruf Amin.

Diakuinya, KOMMARI harus menjadi suatu organisasi mandiri yang berwujud sebagai suatu lembaga non pemerintah, tetapi harus bisa menjadi mitra pemerintah.

“Untuk itu KOMMARI harus melakukan kajian di bidang permodelan bisnis yang di sektor kemaritiman bisa dilaksanakan oleh masyarakat bawah yang bersinergi dengan industr, serta mampu melakukan Kemitraan dengan semua pihak sehingga bisa menjadi mediator antara akademisi, bisnis, pemerintah dan media dengan Masyarakat bawah sehingga bisa melaksanakan arus baru ekonomi kerakyatan untuk mewujudkan kesejahteraannya,” jelasnya.

Bahkan, dengan arus baru ekonomi Indonesia yang ingin lebih digiatkan, Indonesia harus mampu menyeimbangkan kekuatan antara konglomerasi dengan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dengan filosofi “Menguatkan yang lemah tanpa melemahkan yang kuat”.

Untuk itu, tambahnya, hambatan infrastruktur ke daerah pinggiran yang merupakan sentra produksi untuk lima tahun ke depan harus dihilangkan, kendala sumberdaya manusia yang kental dengan akademik mau dirubah ke vocasional , supaya menjadi pelaku arus baru ekonomi dari pinggiran.

“Saya berpesan kepada KOMMARI yang didominasi Generasi Muda harus bisa berkontribusi secara nyata , jangan hanya jadi penonton. Mulailah dari kecil melaksanakan Bisnis model dengan kolaborasi dengan pesantren-pesantren supaya mereka mempunyai pendapatan yang tetap untuk mengasuh para santrinya, begitupun para santrinya harus bisa menjadi Startup Bisnis Kemaritiman yang berkelanjutan dan membangun pondasi ekonomi yang kuat bagi Indonesia,” katanya.

Ketua Umum KOMMARI, Henry Sutiyoso, dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa KOMMARI disusun dengan sebuah kesepakatan yang berlandaskan pada kekuatan “Arus Baru Ekonomi Indonesia”, untuk secara aktif terlibat dalam berbagai persoalan yang menghimpit pada sektor Kemaritiman.

“Secara filosofis, KOMMARI menyadari perannya untuk berpihak kepada kepentingan masyarakat dan industri, serta sebagai mitra pemerintah untuk memuluskan dalam memaksimalkan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya kemaritiman demi kesejahteraan Indonesia,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *