Alasan Mengapa Indonesia Disebut Bangsa Penyelam

IndonesiaNew, JAKARTA – Selain dikenal dengan bangsa kelautan, Indonesia kerap disebut bangsa penyelam. Lantas, apa alasannya Tanah Air dijuluki demikian? Inilah jawabannya.

Semua itu membuktikan diving semakin mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Namun bukan berarti predikat sebagai bangsa penyelam lantas sertamerta disandang Indonesia.

“Kegiatan diving di Indonesia belakangan ini growth-nya memang sangat tinggi. Tapi kalau kita ingin dicap dengan bangsa penyelam sejati, harus berbenah dulu di dalamnya,” terang Ir Sarwono Kusumaatmaja dalam takshowbertajuk “Indonesia Bangsa Penyelam” yang digelar Masyarakat Selam Indonesia (MASI) untuk meramaikan pameran Deep & Extreme Indonesia (DEI) 2017 di Assembly Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, baru-baru ini.

Kenapa? Menurut mantan Menteri Lingkungan Hidup ini ya karena ada keanehan. “Indonesia adalah negara kepulauan paling gede di dunia. Tapi penghuninya buta laut,” aku Sarwono.

Indonesia, lanjut Sarwono juga bukan negara maritim, melainkan hanya negara kepulauan. “Kalau bangsa maritim adalah bangsa yang armada niaga dan perangnya kuat. Contohnya China. Kita nggak cuma negara kepulauan,” jelasnya.

Istilah kelautan dan maritime, lanjut Sarwono, harus dibedakan. Kelautan merujuk kepada laut sebagai wilayah geopolitik maupun wilayah sumber daya alam, sedangkan maritim merujuk pada kegiatan ekonomi yang terkait dengan perkapalan baik armada niaga maupun militer, serta kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan itu seperti industri maritim dan pelabuhan.

“Dengan kata lain kebijakan kelautan merupakan dasar bagi kebijakan maritim sebagai aspek aplikatifnya,” terangnya.

Lanjut Sarwono, di jaman Bung Karno Angkatan Laut Indonesia pernah menjadi keempat terbesar di dunia setelah Amerika Serikat, Uni Soviet dan Iran.

“Tetapi kekuatan itu tidak nyata dan hanya temporer karena tidak dibangun atas kemampuan sendiri, namun karena bantuan Uni Soviet dalam kerangka permainan geopolitik,” bebernya.

Selama itu, berbagai rencana di bidang kelautan dan kemaritiman dibuat dan dideklarasikan namun kelembagaan kelautan, pembangunan perekonomian maritim dan pembangunan sumber daya manusia tidak pernah dijadikan arus utama pembangunan nasional, yang didominasi oleh persepsi dan kepentingan daratan semata.

Dewan Kelautan Nasional memang dibuat tetapi dengan mandat terbatas dan menduduki hirarki yang tidak signifikan dalam kelembagaan pemerintahan.

Menurut Sarwono, bangsa ini punya problem identitas. “Ini dikarenakan sejak kecil bangsa ini sudah dicekokin dengan mengatakan Indonesia adalah negara agraris,” terangnya.

Buktinya sejak dulu kalau anak kecil kalau disuruh menggambar pemandangan yang digambar rata-rata dua gunung dan sawah. “Tidak ada yang menggambar laut dan biotanya,” aku Sarwono.

Konsep sebagai Negara Kepulauan itu, lanjut Sarwono dibuktikan dengan berbagai faktor seperti letak geografis Indonesia yang strategis, di antara dua benua dan dua samudra dimana paling tidak 70% angkutan barang melalui laut dari Eropa, Timur Tengah dan Asia Selatan ke wilayah Pasifik, dan sebaliknya, harus melalui perairan Indonesia.

“Ditambah wilayah laut yang demikian luas dengan 17.500-an pulau-pulau yang mayoritas kecil memberikan akses pada sumber daya alam seperti ikan, terumbu karang dengan kekayaan biologi yang bernilai ekonomi tinggi, wilayah wisata bahari, sumber energi terbarukan maupun minyak dan gas bumi, mineral langka dan juga media perhubungan antar pulau yang sangat ekonomis,” terangnya.

Belum lagi pantai Indonesia sepanjang 81.000 km (kedua terpanjang di dunia setelah Canada), merupakan wilayah pesisir dengan ekosistem yang secara biologis sangat kaya dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi.

Lain halnya dengan ketua MASI Ricky Soerapoetra. Menurutnya Indonesia sangat bisa menjadi bangsa penyelam.

“Caranya dengan menumbuhkan percaya diri bahwa kita anak pulau dan meningkatkan cinta terhadap laut dengan cara yang simple seperti sering mengunjungi laut, lalu belajar diving sampai menjadi penyelam,” paparnya.

Kategori selam itu dimulai dari snorkling, scuba diving, dan free diving. “Memang hanya pelatihan untuk mengambil sertifikat yang memakan biaya yang cukup mahal namun sudah ada lembaga sertifikasi yang terjangkau,” ungkapnya.

Sambung Ricky, itu penting terutama untuk keselamatan dan mengenali lingkungan. “Sekarang pun peralatan bisa sewa dengan harga terjangkau. Namun masyarakat harus mencek dahulu alat yang disewa. Untuk lokasi diving jangan dilihat menuju kesana mahal, diving itu olah raga rekreasi jadi lakukanlah diving pada saat liburan di lokasi terdekat,” pungkas Ricky.

Talk show yang juga menghadirkan Haryono Isman (mantan Menpora), Dharmawan Gharonk dari Shark Diving Indonesia, Saifullah M.Si Kabid Kelautan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Sabang, Nesha Ichida co-founcer dari Divers Clean Action Indonesia, dan Basuki Rahmad dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) ini merupakan salah satu dari sekian takshow yang digelar untuk menyemarakkan DEI 2017.

Presiden Direktur Deep & Extreme Indonesia 2017, Dharmawan Sutanto mengatakan selama empat hari pelaksanaan DEI mulai 30 Maret – 2 April 2017 ada sejumlah talk show yang digelar dengan tujuan memberikan edukasi untuk pengunjung Deep & Extreme.

Masih ada beberapa talkshow terkait bahari lainnya, seperti talk show bertema “Kurangi Kantong Plastikmu, Dukung Sekarang Juga oleh Putri Selam Indonesia 2016”. Nara sumbernya ada Adissa Soedarso dan Devina Mahendriyani pada pukul 12.00 – 12.45 WIB.

Setelah itu ada talkshow Standar Above the Rest oleh Instruktur Examiner RAID, Martin Westik pukul 13.00 – 13.45 WIB.

Selanjutnya ada talkshow Nutrition for Athlete: How to Maintain Your Enduration and Strength with Daily Nutrition oleh Owner Bulk Protein, Andy Mardiansyah dan Head of Nutrition Departement Esa Unggul, CEO Gizi Kebugaran Indonesia pukul 15.00 – 15.45 WIB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*