Berikut Kerjasama Indonesia dengan Singapura & Thailand Soal Cruise

IndonesiaNew, SINGAPURA – Asean Tourism Forum 2017 di Singapura memang telah usai, namun di balik itu semua terungkap kerjasama Indonesia dengan Singapura dan Thailand soal pariwisata.

Menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya, kapal Pesiar atau cruise selama ini masih belum optimal memboyong wisatawan mancanegara ke tanah air.

Padahal, dengan kapal berkapasitas 3.500 orang saja, plus 1.500 anak buah kapal, total sudah membawa 5.000 orang hanya dengan satu kapal. Jika 2.000 orang turun, mengambil paket wisata 6-12 jam saja, sudah equivalen dengan 10 flights yang berisi wisatawan.

“Karena itu, kami berinisiatif untuk joint promo, joint destination, membuat route baru dari Singapore ke Bali, singgah di Belitung, Jakarta, Semarang, Surabaya, baru Benoa Bali. Maka destinasi kita di pelabuhan pesisir utara akan hidup,” jelasnya kepada IndonesiaNew, Rabu (25/1/2017).

Menpar Arief menjelaskan Indonesia sudah mnderegulasi banyak hal, salah satunya pencabutan cabotage. Selama ini kapal berbendera asing tidak boleh menaik turunkan penumpang di pelabuhan internaisonal.

“Sejak tahun lalu asas itu sudah dicabut, dan pemerintah menetapkan 5 port internasional bisa menaikturunkan penumpang. Diantaranya, Medan, Jakarta, Surabaya, Bali dan Makassar,” paparnya.

Guna menambah pasokan wisatawan mancanegara ke Indonesia melalui kapal pesiar, Indonesia pun menjalin kerjasama dengan Singapura dan Thailand.

Menurut S. Iswaran Menteri Perdagangan dan Industri Singapura yang membawahi Pariwisata menuturkan banyak persoalan yang harus diselesaikan oleh pemerintah Indonesia untuk membangun sinergitas di bidang cruise tourism.

Hal pertama yang harus diubah oleh Indonesia adalah Imigrasi. Baginya, tidak bisa seorang turis harus berdiri 2-3 jam hanya untuk menunggu antre kontrol passport atau visa di counter imigrasi.

“Jika itu masih berlaku di Indonesia maka terlalu lama, menghabiskan waktu mereka ketika docking di satu kota,” tegasnya.

Kedua, soal port infrastruktur atau peralatan dan fasilitas di pelabuhan yang sering tidak siap. Idealnya, terminal kapal barang dengan kapal wisata itu dibedakan, disendirikan. Jangan dicampur, karena handling-nya beda.

“Saya kira ini juga pekerjaan rumah yang penting buat pariwisata Indonesia. Termasuk kedalaman, minimal 12 meter, idealnya 15 meter. Semarang saja, hanya 10 meter, itu harus docking di tengah laut, sehingga merepotkan jika cuaca tidak terlalu bersahabat,” lanjut Iswaran.

Ketiga, dirinya meminta agar Indonesia bisa pastikan di setiap kota yang dikunjungi memiliki amenitas yang lengkap. Ada café, ada destinasi, ada culinary, ada souvenir shop, dan lainnya. Itu semua harus berada dalam satu ekosistem, satu kesatuan yang harus disiapkan.

“Dari Singapura ke Bali harus ada banyak titik yang membuat wisatawan bisa turun dan berjalan-jalan di kota tersebut,” paparnya.

Sedangkan Indonesia-Thailand dari sisi bahari akan membangun kerjasama wisata, khususnya perahu pesiar atau yachts. Arief Yahya mengusulkan agar ada jalur di segitiga emas, Sabang (Aceh), Phuket (Thailand) dan Langkawi (Malaysia).

“Kami akan ada Sail Indonesia, akhir Desember 2017 yang dipusatkan di Aceh. Kami mengundang Ibu Menteri Kobkarm untuk hadir ke Sail Sabang 2017 nanti,” tukasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*