Dari Sinilah Nama Phinisi Itu Muncul!

IndonesiaNew, JAKARTA – Semua orang tentu mengenal nama phinisi yang merupakan kapal tradisional Indonesia yang khas dengan masyarakat Bugis atau Makassar. Lantas, dari manakah nama phinisi itu berasal? Inilah kupasannya.

Menurut Horst H. Liebner, Sejarahwan Maritim dan Antropologi mengatakan pada awalnya tipe perahu ini bermula dari seorang Perancis atau Jerman di abad ke-19 melarikan diri dari sebuah kapal layar berukuran besar asal Eropa.

Kala itu, orang tersebut tak mau ikut ke Jawa ketika Malaka diserahkan Belanda kepada Inggris ke Trengganu di Malaya.

Di mana ia menikahi seorang gadis setempat dan bekerja sebagai tukang besi.

Pada suatu hari, Raja Trengganu kala itu bernama Sultan Baginda Omar meminta si orang tersebut membantu membangun perahu menyerupai perahu barat yang paling modern sehingga dibangunlah kapal sekunar yang dipakai sebagai perahu kerajaan.

Kapal Phinisi (Foto: Robbreport)

Kapal Phinisi (Foto: Robbreport)

“Menurut tradisi para pelaut Melayu, perahu itulah dijadikan contoh untuk membangun perahu-perahu sejenis yang dinamakan Pinas yang mungkin sekali dengan meniru kata pinasse. Dalam bahasa Perancis dan Jerman pada zaman tersebut menandai sejenis kapal layar berukuran sedang,” paparnya kepada IndonesiaNew, Senin (28/11/2016).

Kemudian, di pertengahan pertama abad ke-20, perahu Pinas Trengganu berbentuk seperti kapal layar samudera clipper Eropa di abad ke-19 dengan membawa dua tiang dengan layar besar.

Lantas di Hindia-Belanda, perahu pertama yang diberikan nama yang sembunyi dengan pinas. Di tahun tersebut, tercatat empat perahu pinisch asal Belitung yang kesemuanya bernakhoda orang Melayu atau China.

“Perahu itu berukuran kecil dan paling besar pinisch Paulina milik Tje Kang Ngie yang bisa memuat 50 ton artinya panjangnya 17 meter dengan daya muat tiga perahu lainnya yang tak melebihi 20 ton,” bebernya.

Di tahun berikutnya, makin banyak perahu dengan nama dan tipe yang sama di kawasan Belitung hingga tahun 1872. Bahkan, tipe ini pun tersebar hingga Bali. Bahkan, tidak ada satu pun yang tercatat di Pelabuhan Makassar.

Kapal Phinisi (Foto: Pinterest

Kapal Phinisi (Foto: Pinterest)

Pinas, pinis, Pinisch dibedakan dengan perahu-perahu sekunar sehingga dianggap sebagai kendaraan laut yang khas.

Tak itu saja, di waktu yang sama berita perkapalan di berbagai koran Jawa mencatat kedatangan dan keberangkatan perahu dagang.

“De Ostpost misalnya mengumumkan perahu Pinas dari Bali memuat 25 pikul kopi yang ditujukan ke Singapura yang masuk melalui salah satu pelabuhan di Jawa Barat, kemudian ada pula kapal penies dinahkodai Intje Eim yang menurut De-Java-Bode membawa lada, damar dan kopi dari Lampung ke Batavia,” bebernya.

Lalu, pada dekade berikutnya, sebutan tipe perahu baru ini terus bertambah bahkan ada kesan perahu-perahu itu makin menyebar ke arah Timur Nusantara.

Kemudian, lewat tulisan de Brujin Kops perihal perahu Hindia-Belanda di tahun 1854 tidak disebutkan akan adanya perahu di Sulawesi Selatan, daerah yang pada abad ke-20 barulah dikenal sebagai asal Pinisi.

“Di kampung Ara, salah satu pusat pembuatan perahu di Sulawesi Selatan terdapat sebutir tradisi lisan bahwa pada tahun 1906 pengrajin perahu Ara dan Lemo-Lemi membangun perahu Penisiq pertama yang dibuat seorang nahkoda Bira, kampung asal pelaut terkenal,” lanjutnya.

Phinisi (Foto: Rajaampatsailing)

Phinisi (Foto: Rajaampatsailing)

Horst menambahkan dalam beberapa dekade berikutnya, perahu tipe inilah menyingkirkan kebanyakan jenis kendaraan laut dagang Sulawesi lainnya.

“Kata phinisi mulai disamakan dengan pelaut Bugis, dalam arti pelayar asal Sulawesi biar pun berbahasa Bugis, Makassar, Mandar maupun Konjo,” tukasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*