Ilustrasi

Demo 4 November Bawa 4 Tempat Wisata di Jakarta Mendunia

IndonesiaNew, JAKARTA – Demo 4 November memang telah usai, namun dibalik kejadian aksi damai yang dilakukan ribuan orang dari sejumlah ormas islam di Indonesia menjadikan beberapa tempat wisata di Jakarta secara perlahan mendunia.

Ribuan orang yang tergabung dari sejumlah ormas islam datang ke Jakarta 4 November kemarin adalah untuk melakukan aksi damai untuk menuntut Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang diduga melakukan penistaan agama saat melakukan kunjungan ke Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu.

Di balik aksi damai demo 4 November ternyata membawa dampak baik untuk pariwisata Indonesia khususnya pariwisata Jakarta. Betapa tidak, beberapa destinasi wisata otomatis menjadi titik pusat aksi damai 4 November.

Berikut destinasi wisata di Jakarta yang mendunia akibat demo 4 November kemarin yang dirangkum IndonesiaNew:

Masjid Istiqlal
Destinasi pertama tentunya Masjid Istiqlal, salah satu wisata sejarah religi ini tentu langsung mendunia. Mengapa? Masjid Istiqlal menjadi tempat titik berkumpulnya ribuan massa dari sejumlah ormas islam yang melakukan salat jumat serta titik bergeraknya menuju beberapa spot yang menjadi sasaran demo mereka.

Salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara ini terus diekspos oleh media massa baik dari nasional maupun internasional.

Masjid Istiqlal yang lokasinya tak jauh dari Istana Negara ini memiliki lima lantai dan satu lantai dasar dengan arsitektur modern dengan dinding dan lantai berlapis marmer menjadi pusat ribuan massa melakukan aksi damai.

Ilustrasi Masjid Istiqlal

Ilustrasi Masjid Istiqlal

Bahkan, sejumlah ulama besar seperti KH. Abdullah Gymnastiar atau yang dikenal dengan AA Gym ini juga merasakan beristirahat di Masjid Istiqlal saat demo 4 November.

Masjid Istiqlal pun merupakan bangunan utama yang memiliki satu kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang 12 pilar besar dengan menara tunggal setinggi 96,66 meter ini kian tersohor namanya berkat demo 4 November.

Istana Negara
Bangunan  bersejarah yang sudah ada sejak jaman Belanda  ini menjadi tonggak sejarah aksi ribuan massa saat aksi demo 4 November kemarin.

Gedung Istana Negara yang semula menjadi rumah peristirahatan luar kota milik pengusaha Belanda, J A Van Braam ini kian menjulang namanya akibat demo 4 November.

Istana Negara (Foto: Wikipedia)

Istana Negara (Foto: Wikipedia)

Bahkan, ribuan massa pedemo 4 November juga ngotot untuk bertemu Presiden Jokowi. Tak itu saja, aksi demo 4 November juga sempat ricuh dengan aparat kepolisian di depan Istana Negara. Memiliki warna yang didominasi putih ini kian menjadi mendunia akibat aksi demo 4 November.

Patung Kuda Kencana
Patung kuda bernama asli patung Arjuna Wijaya ini menjadi terkenal akibat ribuan orang aksi demo 4 November kerap melakukan peristirahatan setelah melakukan longmarsh.

Letak patung ini berdekatan dengan Gedung Kementerian Pariwisata, alhasil branding pariwisata Indonesia yakni Wonderful Indonesia kian dikenal masyarakat Indonesia maupun para media internasional.

Patung Kuda Kencana (Foto: Jakarta.go.id)

Patung Kuda Kencana (Foto: Jakarta.go.id)

Monumen yang berbentuk kereta kuda dengan jumlah 8 ekor ini langsung dikenal dunia. Terlebih patung yang dibuat dari tembaga dan dihiasi air mancur ini menjadi patung paling fenomenal di aksi demo 4 November. Seperti diketahui, bila patung ini dibuat oleh pematung asal Tabanan, Bali bernama Nyoman Nuarta di Bandung.

Meskipun ribuan orang melakukan aksi damai, syukurlah jika patung tersebut tak dirusak. Dari sejumlah pantauan aksi demo 4 November, banyak pedemo tak ketinggalan untuk mengabadikan momen dirinya dengan latar belakang patung kuda kencana tersebut.

Monas
Meskipun ribuan pedemo 4 November tak memasuki kawasan Monas, namun Monas tetap mendunia. Pasalnya, seluruh ribuan pedemo 4 november tentunya melintasi Monas ketika ingin menuju Masjid Istiqlal maupun Istana Negara.

Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Pembangunan monumen ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah presiden Sukarno, dan dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala.

Pembangunan Monas terdiri atas tiga tahap. Tahap pertama, kurun 1961/1962 – 1964/1965 dimulai dengan dimulainya secara resmi pembangunan pada tanggal 17 Agustus 1961 dengan Sukarno secara seremonial menancapkan pasak beton pertama. Total 284 pasak beton digunakan sebagai fondasi bangunan. Sebanyak 360 pasak bumi ditanamkan untuk fondasi museum sejarah nasional.

Keseluruhan pemancangan fondasi rampung pada bulan Maret 1962. Dinding museum di dasar bangunan selesai pada bulan Oktober. Pembangunan obelisk kemudian dimulai dan akhirnya rampung pada bulan Agustus 1963. Pembangunan tahap kedua berlangsung pada kurun 1966 hingga 1968 akibat terjadinya Gerakan 30 September 1965 (G-30-S/PKI) dan upaya kudeta, tahap ini sempat tertunda.

Ilustrasi Monas

Ilustrasi Monas

Tahap akhir berlangsung pada tahun 1969-1976 dengan menambahkan diorama pada museum sejarah. Meskipun pembangunan telah rampung, masalah masih saja terjadi, antara lain kebocoran air yang menggenangi museum. Monumen secara resmi dibuka untuk umum dan diresmikan pada tanggal 12 Juli 1975 oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto. Lokasi pembangunan monumen ini dikenal dengan nama Medan Merdeka.

Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur Medan Merdeka dipenuhi pengunjung yang berekreasi menikmati pemandangan Tugu Monas dan melakukan berbagai aktivitas dalam taman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*