Proses Kuliminasi Matahari (Foto: Liputan6)

Februari ini, Momentum Langka Matahari Mempesonakan Pontianak

IndonesiaNew, PONTIANAK – Selain momen Gerhana Matahari Total (GMT) di Indonesia beberapa waktu lalu, kini momentum serupa bakal hadir di Pontianak melalui momen Kulminasi Matahari.

Fenomena alam yang menarik bakal terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat, 21 – 23 Februari 2017, mendatang.
Momentum ini berupa Kulminasi Matahari yang merupakan salah satu peristiwa langka di Tugu Khatulistiwa Pontianak tepat pukul 11.38 WIB. Kejadian ini mirip dengan Gerhana Matahari Total yang terjadi di Indonesia lalu, yang hanya terjadi di beberapa tempat dan terbatas waktunya.

”Ini bisa menjadi momentum Pariwisata yang hebat. Kami akan promosikan agar menghadirkan wisatawan di Pontianak,” jelas Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pontianak, Hilfira Hamid kepada IndonesiaNew, Kamis (16/2/2017).

Diakuinya, Pontianak dilintasi garis matahari, pada 0 detik, 0 menit, dan 0 derajat. Dalam satu tahun peristiwa ini hanya terjadi dua kali yakni pada 21-23 Maret dan 21-23 September.  “Anda ingin tahu? Silakan mengunjungi Kota Khatulistiwa,” ujarnya lagi.

Hilfira menjelaskan, kulminasi matahari adalah Fenomena alam ketika Matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Misteri alam dari gelaja alam tersebut adalah saat terjadi Kulminasi, posisi matahari akan tepat berada di atas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda dipermukaan bumi.

Bahkan, di jeda waktu tersebut, para pecinta astronomi akan menyaksikan bayangan tugu seperti lenyap beberapa saat diterpa sinar Matahari. Demikian juga dengan bayangan benda-benda lain di sekitar tugu. Berdasarkan hasil pengukuran BPPT, posisi Tugu khatulistiwa saat ini berada pada  0 derajat, 0 menit dan 0 detik lintang, 109 derajat 20 menit, 0 detik bujur timur.

Walaupun terjadi pergeseran 117 meter dari garis equator sebelumnya tetapi spot ini masih dinyatakan spot terbaik untuk melihat gejala bintang di pusat tata surya galaksi Bima Sakti.

Disamping dengan daya tarik Kulminasi matahari, festival ini dimeriahkan dengan berbagai macam acara. Mulai dari festival seni, expo, festival makanan dan acara puncak yakni seremonial menyambut equinox.

Memanfaatkan momen tersebut, pihak penyelenggara juga menjual paket destinasi lainya seperti menjelajahi sungai Kapuas yang menjadi sungai terpanjang di Indonesia. Atau mengunjungi Kampung Beting yang menjadi peradaban kota Pontianak di masa lalu yang masih dijaga kelestariannya hingga saat ini.

”Kita juga mempersiapkan ragam destinasi lainnya, seperti  Arung Jeram Riam Berasap di Bengkayang Rumah Betang Radak, Keraton Kesultanan Kadariyah, Pantai Pasir Panjang dan Pantai Kura-Kura dan ragam paket destinasi Ekowisata di Singkawang. Kita akan sambut semua fenomena alam ini dengan nuansa Pariwisata,” bebernya lagi.

Selain Indonesia ada empat negara lainnya yang berada di Afrika yang juga bisa menyaksikan keajaiban alam ini seperti negara Gabon, Zaire, Uganda, Kenya, dan Somalia.

“Dari semua negara yang dilintasi oleh garis khatulistiwa, hanya Pontianak kota satu-satunya di dunia yang berada tepat dilintasi oleh garis Khatulistiwa yang menhasilkan rekaan gambar tanpa bayang-bayang yang sempurna,” tambah Hilfira.

Selain dari saksi bisu keajaiban alam Kuliminasi matahari, tugu fenomenal ikon Kota Pontianak ini juga menyimpan perjalana sejarah. Lewat satu ekspedisi internasional bangsa Belanda pada tahun 1928, ahli geografi Den 31 sten Maart pertama kalinya melebeli tempat ini sebagai titik/tonggak garis equator. Sejak Tugu pertama berbentuk tonggak dengan anak panah pada tahun 1928, tugu yang menjadi ikon kota Pontianak ini telah mengalami perubahan kurang lebih empat kali.

Selain itu, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Wisata Nusantara Kemenpar, Esthy Reko Astuti mengapresiasi kegiatan tersebut serta meminta tiga kegiatan pariwisata utama yang akan dimasukkan ke agenda nasional dan ditawarkan kepada wisatawan mancanegara, serta wisatawan nusantara.

Keterlibatan masyarakat memang diperlukan agar pariwisata di suatu daerah dapat berkelanjutan, sehingga akan memunculkan multiplier effect yang dirasakan langsung.

Tak itu saja, perlu juga inovasi terutama dalam pengemasan paket wisata. “Selain itu mereka juga harus melakukan persiapan dan memanfaatkan momentum itu dengan mengadakan berbagai festival, sehingga menarik bagi ilmuwan, dan wisatawan,” tukasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*