Kerjasama dengan Singapura, Indonesia Perkuat Cruise & MICE

IndonesiaNew, SEMARANG – Indonesia dan Singapura resmi bekerjasama dalam bidang pariwisata. Isi kerjasama tersebut lebih kepada persoalan Cruise dan MICE.

Lingkup kerja sama antara Indonesia dan Singapura betul-betul pengembangan pariwisata kedua negara, yang semakin akrab dan saling support selama dua tahun ini.

“Terutama soal promosi dan pemasaran bersama; kapal pesiar (cruise); dan Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions (MICE),” jelas Menteri Pariwisata Arief Yahya di Wisma Perdamaian, Tugu Muda, Semarang, Jawa Tengah.

Dalam kerjasama tersebut, kegiatan lain yang dapat dilakukan adalah pembangunan destinasi dan pelabuhan, pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan, seminar dan loka karya, penelitian dan pengembangan, investasi pariwisata, kerja sama sektor swasta; dan pertukaran informasi.

Proses kelahiran MoU Kerja Sama Pariwisata RI-Singapura tak butuh waktu lama. “Ini adalah MoU tercepat yang pernah dibuat Singapura,” ucap Leong Yue Kheong, Assistant Chief Executive of Singapore Tourism Board.

Dalam kerjasama ini, nota kesepahaman di sektor pariwisata itu diteken oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Arief Yahya dan Menteri Perdagangan dan Perindustrian Singapura, S. Iswaran di hadapan Presiden RI, Joko Widodo, dan Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, di Wisma Perdamaian, Tugu Muda, Semarang, Jawa Tengah.

Dari Indonesia, Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menko Polhukam Wiranto, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko Kematiriman Luhut Binsar Panjaitan, Mensesneg Pratikno, Menristek Dikti Mohammad Nasir, Menteri Perindustrian

Airlangga Hartarto, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menkominfo Rudiantara, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Kepala BKPM

Thomas Lembong dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Sementara dari Singapura, Perdana Menteri  Lee Hsien Loong ditemani Wakil Perdana Menteri dan Menteri Koordinator Keamanan Nasional Teo Chee Hean, Menteri Perdagangan dan Industri Lim Hng Kiang, Menteri Komunikasi dan Informasi Yaacob Ibrahim, Menteri Pertahanan Ng Eng Hen, Menteri Luar Negeri Vivian Balakrishnan, Menteri Perdagangan dan Industri  S Iswaran, Menteri Pendidikan (Pendidikan Tinggi dan Keterampilan) dan Menteri Kedua Pertahanan Ong Ye Kung, Menteri Senior Negara untuk Kesehatan dan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air Amy Khor, dan Menteri Negara untuk Kesehatan dan Komunikasi dan Informasi Chee Hong Tat.

Sejak 2010, Singapura menunjukkan minatnya untuk bekerja sama di bidang kapal pesiar. Namun, Indonesia masih mengkalkulasi untung ruginya bekerja sama di bidang kapal pesiar dengan Singapura.

Barulah di era Presiden Joko Widodo, diputuskanlah bahwa kerja sama pariwisata dengan Singapura menjadi hal yang harus diprioritaskan.

Arahan Presiden Jokowi pada Leaders Retreat di Singapura, 28 Juli 2015 sangat jelas. Di mana, Indonesia dan Singapura harus bersama-sama melakukan kerjasama promosi untuk pariwisata menjadi sebuah paket destinasi bersama. Muaranya, peningkatan kedatangan turis di kedua negara.

Dengan bekerjasama dengan Singapura, Arief Yahya menilai bila Yachts dan Cruises yang selama ini bersandar di Singapore bisa membuat paket berkeliling perairan Indonesia, merapat dari pulau ke pulau, dari destinasi ke destinasi di tanah air.

“Maka wisata bahari Indonesia bisa hidup, bergairah, dan investor Singapore juga bisa bekerjasama membangun banyak destinasi di Indonesia,” katanya lagi.

Hal lain yang juga dilihat Arief Yahya adalah Singapura merupakan transportation hub bagi pariwisata Indonesia.

Baginya ada jutaan orang transit di Changi Airport, selain 15,5 juta wisatawan yang masuk ke Singapore. Dalam beberapa kegiatan promosi, sejatinya kerjasama Kemenpar dengan Changi International Airport sudah terjadi.

“Istilahnya kami menjaring ikan di kolam yang sudah banyak ikannya,” lanjutnya.

Kalau Bali diformat menjadi tourism hub, lalu Jakarta sebagai trade and investment hub, maka Singapura merupakan transportation hub.

“Saat ini wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia juga banyak transit dari Singapura, karena persentase direct flights ke Indonesia masih minim,” bebernya.

Lantas, bagaimana dengan MICE itu sendiri? Menurutnya, dengan bekerja sama Ctrip maka bisa mendatangkan wisatawan China ke destinasi Bintan, Surabaya, Yogyakarta dan Lombok.

Setelah itu, promosi Wonderful Indonesia di Changi Airport. Setelah hub transportasi udara internasional, kerjasama juga diarahkan ke hub pasar MICE – Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions.

Singapore Association of Convention and Exhibition Organisers and Suppliers (SACEOS) ikut digandeng, Singapura dijadikan pintu masuk untuk pasar MICE.

Arief Yahya melihat ada puluhan ribu perusahaan asing, baik dari Eropa, Amerika, Asia dan Australia yang memiliki representative office di Singapura.

Selain itu juga banyak asosiasi, organisasi, korporasi besar yang memilih Singapura sebagai kantor, meskipun manufacture dan produksinya berada di negara lain.

“Wisatawan MICE di Singapura itu frekuensinya besar, jumlahnya juga besar, dan berpeluang dikembangkan di Indonesia juga,” beber Marketeer of The Year 2013 itu.

MICE jadi makin terlihat seksi lantaran jumlah pesertanya banyak, partisipannya adalah decision marker, length of Stay-nya panjang, media coverage-nya luas dan spendingnya sangat tinggi.

“Menggabungkan MICE dengan pariwisata itu bisa langsung menyatu. Biasanya selepas acara atau sebelum acara, ada sesi city tour atau culinary tour, mengunjungi satu tempat paling menarik di kota tempat MICE dilangsungkan. Inilah yang bisa menggerakkan ekonomi. Semua roda ekonomi terkait dengan MICE dan tour-nya bisa hidup dan berkembang,” tukasnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*