Kesohoran Masjid An Nawier Kampung Arab hingga Negeri Kincir Angin

IndonesiaNew, JAKARTA – Selain kota metropolitan, Jakarta menyimpan segudang destinasi wisata. Salah satunya Kampung Arab di Pekojan, di sana bisa menemui Masjid Anda Nawier yang terkenal hingga Negara Jepang.

Kampung Arab yang ada di kawasan Pekojan, Jakarta Barat ini menyimpan banyak cerita sejarah di dalamnya. Bahkan, di sana terdapat rumah tua khas Jakarta.

Masjid An Nawier Kampung Arab (Foto: IndonesiaNew)

Ternyata, keberadaan Kampung Arab di Pekojan tak terlepas dari sejarah Indonesia khususnya Jakarta. kawasan ini memangbsangat dekat dengan Pelabuhan Sunda Kelapa. Di sana, proses perdagangan rempah-rempah serta kehadiran Timur Tengah kala itu membuat sejumlah masyarakat keturunan Arab mulai menyinggahi Pekojan.

Keberadaan masyarakat keturunan Arab ini lantas membuat beberapa masjid. Bahkan, kekokohan masjid di Kampung Arab memang sangat terlihat.

Apalagi, di sana juga terdapat beberapa pohon kurma yang diyakini ditanami oleh masyarakat Arab tersebut.

“Adanya pohon kurma di Kampung Arab menjadi bukti kehadiran sejarah Indonesia yang ada di Jakarta. Pohon kurma di sini juga tak hanya satu saja tetapi ada beberapa pohon kurma,” jelas Bram Abdurahman, salah satu pengurus Masjid An Nawier Kampung Arab kepada IndonesiaNew di Masjid An Nawier Kampung Arab, Pekojan, Jakarta Barat, Rabu (4/1/2017).

Diakuinya, dalam membangun Masjid An Nawier ini membutuhkan kayu jati. Bahkan, di seluruh bagian dari Masjid tersebut tidak ada yang diubah.

Pohon kurma ada di Masjid An Nawier Kampung Arab (Foto: IndonesiaNew)

“Palingan kita hanya mengecat ulang atau mengganti genteng yang sudah rusak. Sisanya tidak diganti karena Masjid An Nawier ini sudah menjadi cagar budaya Jakarta yang bisa dilihat oleh wisatawan,” bebernya lagi.

Kehadiran Masjid An Nawier ini muncul di tahun 1760, bahkan selain masjid ini ada pula Masjid Langgar Tinggi yang jaraknya tak jauh dari Masjid An Nawier yang muncul di tahun 1829 SM. Lantas yang terakhir Masjid Azzawiyah.

Masjid An Nawier didirikan tahun 1760 oleh Sayid Abdullah bin Husein Alaydrus dari Hadramaut, yang diyakini sebagai keturunan Nabi Muhammad, dari putrinya Fatimah dan Ali.

Tak itu saja, yang bikin masjid ini megah yakni dikelilingi pagar tembok dan besi dengan pintu masuk halaman di selatan dan barat laut. Luas tanah 2.470 meter persegi dan luas bangunan 1.500 meter persegi. Pondasinya setinggi setinggi 80 sentimeter.

“Untuk posisinya, masjid menghadap ke selatan dengan empat buah pintu masuk ke ruang utama. Denah ruang utama seperti huruf ” L” seluas 1.170 meter persegi, terbagi utara dan selatan,” lanjutnya.

Kemudian, pada ruang utama terdapat tiang-tiang, mihrab, dan mimbar. Bagian utara, selatan, dan timur masjid terdapat serambi.

Suasana di Masjid An Nawier (Foto: IndonesiaNew)

“Di bagian dalam, terdapat 33 tiang. Sementara bagian atapnya terdiri atas empat buah atap limasan yang tertutup genteng, masing-masing dua buah di utara dan di selatan,” tuturnya.

Yang menonjol dari masjid ini adalah menara setinggi 17 meter yang dibangun pada abad ke-19.

Bram Abdurrahman mengatakan kesohoran Masjid An Nawier pun sudah dikenal hingga negeri Samurai Jepang.

“Wisatawan internasional yang kerap datang Jepang, Belanda, Malaysia, Timur Tengah, Korea hingga China sekaligus. Bahkan, saya tanya kepada salah satu wisatawan Belanda mengatakan jika Masjid An Nawier menjadi sejarah Indonesia. Masjid An Nawier pun sudah dikenal di negara mereka,” paparnya lagi.

Biasanya, kebanyakan wisatawan yang datang ke Masjid An Nawier ketika bulan Ramadan itu tiba. Keingintahuan mereka menjadikan Masjid ini jadi dikenal.

Masyarakat Kampung Arab sembahyang di Masjid An Nawier (Foto: IndonesiaNew)

“Biaya renovasi masjid didapatkan saat Salat Jumat. Di mana, mereka yang datang selalu menyisihkan dananya untuk disumbangkan ke Masjid,” tukasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*