Fesival Bakcang Ayam dan Lamang Baluo (Foto: Doc. Pemerintah Kota Padang)

Lebaran, Kota Padang Hadirkan Festival 10 Ribu Bakcang Ayam & Lamang Baluo

IndonesiaNew, PADANG – Biasanya di libur lebaran, seluruh wilayah di Indonesia sepi akan festival pariwisata. Berbeda dengan di Kota Padang. Di libur lebaran 2019 ini, Kota Padang menghadirkan 10 ribu Bakcang Ayam dan Lamang Baluo.

Festival yang digelar di Kawasan Kota Tua, Jalan Batang Arau, Padang, Sumatera Barat juga menjadi sejarah di Indonesia. Terlebih, festival tersebut diadakan dalam rangka melestarikan dan mempertahankan budaya Tionghoa dan Minangkabau serta meningkatkan perekonomian usaha kecil dan menengah di Kota Padang.

“Melalui festival ini maka kami memberikan tempat kepada warga di Kota Padang untuk dirangkul, apalagi sebagai pemerintah kami wajib memberikan pelayanan terbaik buat warga tanpa mengenal etnis, agama maupun budaya mana pun,” ucap Walikota Padang H. Mahyeldi, Kamis (6/6/2019).

Diakuinya lagi, ajang ini diadakan di momen Idul Fitri agar membangun komunikasi yang lebih erat sehingga kian terciptanya perdamaian di Kota Padang.

“Kita senantiasa mengangkat dua budaya ini dari tahun ke tahun, otomatis proses akulturasi dua budaya ini terus terjalin dengan kuat maka mau tidak mau masyarakat Padang akan merasa berada di rumahnya sendiri, merasa in home,” bebernya lagi.

Tak ketinggalan, Wakil Walikota Padang Hendri Septa menambahkan bahwa keberadaan festival ini yang menjadi pertama di Indonesia yang diadakan di hari raya Idul Fitri bisa membuat Kota Padang semakin kuat, semakin kompak serta bahu membahu untuk menjaga toleransi antar umat beragama. Bahkan, kian membawa Kota Padang penuh dengan kedamaian atas rasa kesatuan Indonesia.

“Kota Padang semakin menjadi salah satu Kota di Indonesia yang kuat dengan toleransi beragama, oleh karenanya kenyamanan bukan hanya dirasakan warga Kota Padang saja melainkan juga dirasakan wisatawan,” tambahnya.
Di sisi lain, Anggota Tim Calender of Event Raseno Arya menambahkan bahwa momentum ini bisa dimanfaatkan melalui suguhan pertunjukkan budaya, seni maupun kuliner yang mengkolaborasikan dua budaya sehingga menunjukkan Kota Padang menjadi kota yang toleransi beragama.

“Ini sejarah di Indonesia, dua budaya berbeda disatukan dan memecahkan rekor Muri. Ini diharapkan bisa menjadi contoh keberagaman dalam kerukunan dan menjadi pertama di Indonesia,” paparnya.

Dengan melihat festioval tersebut, maka pihak Kementerian Pariwisata pun langsung memiliki target. Di mana, target ini disesuaikan dengan keinginan Presiden Jokowi melalui Menteri Pariwisata Arief Yahya yang menjadikan wisatawan China menjadi target pasokan wisatawan terbesar.

Seperti diketahui, festival ini dilaksanakan selama dua hari 6-7 Juni 2019. Pada 6 Juni dilaksanakan pembukaan, festival kuliner, tarian minang, silat dan wushu, pentas musik, barongsai, gambang dan lainnya. Sementara, pada 7 Juni dilaksanakan rekor Muri, kolaborasi parade budaya Minang dan Tionghoa, flash mob, line dance, drum band dan gamad.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*