Mendulang Emas Pariwisata Indonesia di Era Milenial

IndonesiaNew, JAKARTA –Perkembangan teknologi makin menggurita. Apalagi di bidang pariwisata. Momentum ini kerap dimanfaatkan penikmat liburan alias travelers mengunggah foto-foto liburan mereka di destinasi wisata tertentu. Cara ini perlahan membuat pariwisata Indonesia kian dilirik wisatawan dunia.

Unggahan foto saat berlibur di media sosial pun erat kaitannya dengan generasi milenial. Hal ini pun diamini Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya. Dia mengatakan salah satu strategi dalam merebut pasar wisatawan milenial adalah membuat destinasi wisata yang dekat dan lebih murah. “Ini menjadi tugas bersama untuk mengalokasikan sumber daya dalam merebut pasar wisatawan milenial, ucapnya, Rabu (7/11/2018).

Pria berdarah Banyuwangi ini mengaku pasar wisatawan milenial sangat berbeda dengan wisatawan pada umumnya karena mereka lebih menyukai destinasi-destinasi yang sedang menjadi hits atau trending topic.

“Para travelers kerap mengunggah destinasi mereka ke media sosialnya guna memuat konten tentang destinasi digital, otomatis menjadi trending topic. Mengapa? Karena mereka memenuhi kebutuhan para milenial. Mereka punya kebutuhan untuk diakui, maka sering datang ke tempat yang jarang didatangi,” bebernya lagi.

Senada, Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpar Guntur Sakti juga menuturkan destinasi digital menjadi salah satu program prioritas Kemenpar pada tahun ini sehingga gencar digaungkan oleh sang menteri.

“Destinasi digital mengikuti tren perkembangan pariwisata di era digital dan generasi milenial. Destinasi yang viral di dunia maya, hits di media sosial dan instagrammable,” tambah Guntur Sakti.

Apa yang diungkapkan Arief Yahya bukan sebatas isapan jempol. Pasalnya pada 2019 lebih dari 50 persen dari tiap pasar pariwisata Indonesia sudah merupakan milenial.

Wisatawan sedang berlibur di Raja Ampat (Foto:Ifengzhong)

Deputi Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar Rizki Handayani menambahkan untuk pasar pariwisata Asia saja didominasi wisatawan milenial berusia 15-34 tahun yang mencapai hingga 57 persen.

“Di China generasi milenial akan mencapai 333 juta, Filipina 42 juta, Vietnam 26 juta, Thailand 19 juta, sedangkan Indonesia 82 juta,” lanjutnya.

Tak hanya itu, banyak negara mulai menyasar pasar milenial Indonesia, seperti Korea dan Jepang. Kedua negara ini menyasar wisatawan milenial Indonesia melalui gaya promosi dan iklan visual, promosi kebudayaan, kuliner, dan lainnya.

“Saya berharap di 2019 Indonesia tidak kecolongan dalam mengantisipasi potensi wisatawan milenial,” tegasnya.

Beragam destinasi Indonesia banyak bermunculan di media sosial, bahkan beberapa destinasi pun dibuat agar para travelers mengunggah foto-fotonya yang nantinya menjadi destinasi yang instagrammable. Sebut saja, Orchid Forest Cikole, The Lodge Maribaya atau Taman Begonia di Bandung. Kemudian foto-foto di Kalibiru, Hutan Pinus Mangunan, Bukit Padar, Pianemo Raja Ampat, serta masih banyak lagi destinasi lainnya.

Besarnya potensi yang bisa digarap dari generasi milenial ini pun tak pernah diduga oleh CEO Orchid Forest Cikole Barry Akbar. Dia mengatakan destinasi wisata Orchid Forest yang terletak di Jawa Barat ini baru beroperasi di 2017.

“Bayangkan saja belum sampai setahun pengunjung ke Orchid Forest terus meningkat rata-rata 1.000 orang per hari, bahkan saat libur Idul Fitri mencapai 10 ribu wisatawan per-hari,” tambahnya.

Destinasi wisata yang instagramable di Orchid Forest Cikole (Foto: Kemenpar)

Kehadiran era milenial ini pun membuat Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Didin Junaedi angkat bicara. Diakuinya, era ini kian membuat semua destinasi wisata di Tanah Air terangkat secara otomatis, bukan hanya destinasi wisata yang sudah dikenal saja.

“Anda bisa lihat betapa mudahnya travelers mengunggah fotonya ke media sosial. Cara ini adalah langkah mudah dalam mengembangkan destinasi wisata di Tanah Air,” jelasnya.

Didin melihat kemudahan teknologi menjadikan para travelers bisa mengabadikan momen yang diinginkan kala berwisata.

“Dengan memakai handphone saja, travelers bisa melakukan foto selfie. Ketika diunggah maka akan banyak bermunculan pertanyaan perihal destinasi wisata yang disambanginya. Tentunya, secara perlahan destinasi wisata tersebut semakin dikenal banyak wisatawan,” ungkapnya.

Wartawan Senior Mimi Hudoyo pun menyoroti masifnya ruang gerak generasi milenial. Menurutnya, di era milenial ini destinasi wisata harus terus bergerak bukan sebatas mengikuti zaman saja.

“Destinasi pariwisata semakin mudah diketahui travelers melalui sosial media. Memang ini membawa dampak yang baik, namun harus diperhatikan juga bahwa pemerintah setempat atau masyarakatnya juga harus turut serta mengembangkan destinasi wisatanya,” imbuhnya.

Wartawan TTG Asia itu merasa bahwa destinasi wisata yang sudah terkenal sehingga jangan mengikuti perkembangan teknologi yang sedang naik daun. Mengapa? Baginya, ini akan bisa mengubah keaslian dari destinasi wisata tersebut.

Wisatawan Nusantara menikmati Pantai Bangsring di Banyuwangi (Foto: Kemenpar)

Selain itu, destinasi wisata pun harus senantiasa berkreasi guna menarik perhatian travelers untuk datang secara berkelanjutan.

“Destinasi wisata itu harus berkelanjutan sehingga travelers terus berdatangan. Disinilah dibutuhkan kreativitas yang tinggi, misalnya dibuat tempat souvenir yang menarik hingga travelers bisa merasakan kuliner keaslian dari masyarakatnya,” ulasnya.

Sementara itu, peningkatan destinasi wisata di Indonesia di era milenial ini merupakan perubahan perkembangan zaman. Hal ini diakui oleh Prof Rhenald Kasali PhD dari Founder Rumah Perubahan melihat bahwa perubahan terjadi di bisnis pariwisata dan tantangannya di era digital dan atau millennial tourism yang ditandai dengan terjadinya dirupsi (disruption) ekonomi pariwisata.

“Milenial yang membuat dirupsi di pariwisata. Disrupsi mempersingkat dan menekan harga dengan teknologi sehingga membuat cara-cara lama tidak dipakai lagi,” tuturnya.

Meski demikian, setiap travelers dari setiap negara mempunyai ciri khas yang berbeda meskipun sama-sama menyukai mengunggah destinasi wisata yang disambanginya.

Untuk wisatawan milenial Indonesia dominan memilih travelling di dalam negeri atau domestik ataupun destinasi di kawasan Asia Tenggara atau region. “Destinasi di dalam region yang anti-mainstream sangat disukai wisatawan milenial Indonesia,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*