Kampung Ikan Asin di Belitung (Foto: IndonesiaNew)

Menjelajahi Kampung Ikan Asin Oleh-Oleh Terbaru dari Belitung

IndonesiaNew, BELITUNG – Berlibur tentu tidak terlepas dari buah tangan atau oleh-oleh untuk orang yang kita sayangi. Biasanya, travelers membeli kue, kerupuk maupun bumbu dapur namun bila berlibur ke Belitung ada yang baru guna dijadikan oleh-oleh yakni ikan asin. Tempat tersebut berada di Kampung Ikan Asin yang terletak di Desa Tanjung Binga, Belitung.

Bagi travelers yang belum pernah menyambangi Kampung Ikan Asin di Belitung, cukup menempuh jarak mengarah ke Pantai Tanjung Kelayang. Ketika menemukan tugu seafood maka travelers mengambil arah ke kiri ke arah Tanjung Binga. Dari tugu tersebut Desa Kampung Ikan Asin hanya berjarak sekira 500 meter.

Pantauan IndonesiaNew, Kampung Ikan Asin ini berada sepanjang 3 kilometer. Ketika berada di kampung tersebut travelers sudah pasti mencium aroma ikan asin, bahkan di sepanjang jalan ikan asin sudah terlihat sedang dijemur oleh para nelayan. Bila ingin membeli oleh-oleh maka disarankan sekira pukul 14.00 WIB, pasalnya ikan asin sudah selesai dijemur. Para nelayan biasanya mencari ikan asin pada saat dini hari kemudian mereka kembali untuk langsung mengolahnya pada pukul 06.00 WIB lalu ikan asin dijemur hingga sore hari.

“Ikan asin ini diolah dalam keadaan masih hidup tentu ada alasannya, mengapa demikian karena dalam keadaan masih hidup aroma dari daging ikan masih segar meskipun bisa saja mengolah ikannya sudah keadaan tidak hidup,” jelas Fatta selaku Nelayan Ikan Asin, Jumat (16/11/2018).

Diakuinya, dalam mengolah ikan asin maka ikan yang diambil adalah ikan lasie. Di mana, bentuk ikan asinnya tidak terlalu besar. Ikan asin ini didapatkan dari perairan Belitung. “Semua nelayan berlayar menuju wilayah Kalasa yang berada di Selat Gaspar yakni antara Bangka dan Belitung serta Pulau Serutu yang masuk ke dalam Selat Karimata antara Kalimantan dan Belitung,” paparnya lagi.

Kampung Ikan Asin di Belitung (Foto: IndonesiaNew)

Untuk proses pengolahannya, ikan yang didapatkan dari hasil menangkap ikan kemudian ditaruh ke dalam wadah berukuran besar selanjutnya ikan dilumuri dengan garam laut lalu ikan diaduk secara bersama. Jika sudah merata maka ikan didiamkan terlebih dahulu selama 15 menit kemudian ikan diangkat lalu dijemur.

“Proses pendiaman dimaksudkan agar garam yang ada di ikan bisa meresap keseluruhan hingga ke dalam daging,” tambahnya.

Pria berusia 53 tahun ini mengaku semua ikan asin ini biasanya dikirim ke seluruh Indonesia atau bergantung pada permintaan pasar. Dalam sehari, dirinya bisa menjual hingga ribuan ton per hari. Tidak hanya ikan asin saja yang ada di kampung tersebut, beragam jenis ikan lainnya tersedia meskipun paling banyak adalah ikan asin. “Kita juga ada ikan teri bilis, ikan selar berukuran kecil,” ulasnya tersenyum.

Bagi travelers yang ingin membelinya cukup merogoh kocek Rp20 ribu untuk ukuran sekilo, kemudian untuk ikan teri bilis dihargai Rp40 ribu per kilo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*