Menyeruput Secangkir Kopi Bali di Balik Dinginnya Pegunungan Kintamani

IndonesiaNew, BALI – Datang ke Pulau Dewata rasanya kurang lengkap bila tak merasakan nikmatnya secangkir kopi. Bila ingin sensasi berbeda, maka datang saja ke Satria Agrowisata di Bali yang ada di pegunungan Kintamani di Desa Basang Ambuh, Kecamatan Tampak Siring, Kabupaten Gianyar, Kintamani, Bali.

Menikmati minuman kopi di sini memiliki nuansa yang berbeda sehingga bisa menjadi pengalaman yang asyik saat beriwisata, mengapa demikian? wisatawan tak hanya disuguhkan minuman kopi semata, terlebih bisa melihat keindahan alam yang luar biasa menakjubkan.

Berwisata ke sini, tentunya selain berlibur maka wisatawan juga bisa mendapatkan edukasi guna memperkaya pengetahuan soal kopi ditambah udara dingin menambah indahnya Satria Agrowisata.

Kopi yang ada di sini pun terdapat tiga jenis yakni arabika, robusta dan tentunya luwak yang menjadi happening buat pecinta minuman kopi.

“Arabika dari Basang Ambuh dekat dengan Gunung Kintamani. Bahkan, ada pula kopi luwak dengan luas 5 hektar. Di sini ada tiga jenis luwak, luwak pandan (hitam dan ada abu2), dua lagi luwak injin (hitam), luwak ketan (cokelat). Tanaman kopi berada 900 meter di atas ketinggian permukaan laut,” ucap Pengelola Satria Agrowisata Dewa Made Juliartawan kepada IndonesiaNew di Bali, Kamis (6/9/2018).

Baginya, untuk kopi arabika terdapat dua tipe yaitu arabika betina memiliki karakter biji kopi yang datar dan memiliki biji kecil sedangkan arabika jantan lebih tajam serta mempunyai kadar caffein lebih tinggi dan pekat serta biji kopi lebih besar.

Tak itu saja, untuk kopi luwak terdapat kadar caffein lebih rendah tapi protein lebih tinggi dan bagus buat kesehatan seperti kolesterol dan kanker.

Sementara itu, di Bali itu sendiri ada beragam jenis rasa yang dihasilkan kopi itu sendiri yakni vanilla, moka, gingseng, dan rasa Bali kopi. Untuk masa panen kopi dalam satu tahun dua bulan sekali yakni di bulan Juni dan Desember.

“Paling enak saat bulan panen, karena bisa melihat proses pengambilan kopi hingga proses pemasakan kopi,” lanjutnya.

Pria yang bekerja sebagai guru ini pun menambahkan untuk kopi luwak maka biji kopi terlebih dahulu dicuci dengan air panas buat menghilangkan kotoran lalu dijemur selama tiga hari, penjemuran dimaksudkan agar saat proses sangrai biji kopi tidak akan sulit dimasak.

Setelah itu, biji kopi di sangrai selama 40 menit untuk ukuran 1 kilogram. Setelah matang maka biji kopi ditumbuk tanpa menggunakan mesin, jika menggunakan mesin aroma tak keluar lalu disaring hingga halus. Proses sangrai suhu api juga harus dijaga yakni 30-40 derajat celsius.

“Proses sangrai harus dilakukan perlahan agar proses pematangan kopi bisa merata hingga ke dalam dan saat sangrai pemutaran harus dilakukan searah karena akan berpengaruh pada aroma dan rasa kopi itu sendiri,” bebernya.

Menurutnya, karakteristik tanah di sini memiliki temperatur yang dingin mencapai 23 derajat celsius yang bisa menghasilkan kopi yang enak diminum.

“Sehari bisa mencapai 1.000 wisatawan, paling banyak Rusia, lalu Eropa, China, India dan wisatawan lokal. Paling ramai Juli, Agustus dan Desember bisa mencapai 1.500 wisatawan,” tambahnya.

Kenikmatan minum kopi di sini juga dirasakan oleh wisatawan asal Jerman. Dialah Moritz yang mengakui bahwa kopi dari Indonesia sangat enak khususnya dari sisi rasa.

“Kopi Bali itu enak dan berbeda dari rasa lainnya. Alam disini sangat indah dan sangat bagus buat dinikmati.

Pria berusia 32 tahun ini pun mengacungkan jempol buat destinasi yang masuk dalam kategori wisata alam ini, salah satunya soal kebersihan.

“Satu hal yang harus saya akui dari tempat ini yaitu soal kebersihan, di sini tak menemukan sampah sedikit pun bahkan soal sanitasinya. jika menemukan daun berserakan itu adalah hal yang wajar karena merupakan faktor alami,” tuturnya.

Demi mengembangkan destinasi wisata ini, Kementerian Pariwisata siap melakukan promosi ke dunia internasional apalagi dari sisi 4A sudah memenuhi syarat buat dijual.

Melalui Kabid Area India Kementerian Pariwisata Komang Mahawira mengaku bila sampai saat ini destinasi performa budaya masih 60 persen, alam 35 persen dan 5 persen buatan dan untuk agrowisata masuk ke dalam kategori alam.

“Agrowisata masuk ke dalam destinasi yang menjadi prioritas serius untuk mendatangkan wisatawan. Atraksi harus diperkuat dan di satria agrowisata memenuhi syarat,” ungkapnya.

Guna mempertajam kunjungan wisatawan maka akses diperkuat, amenitas harus diutamakan seperti restoran, penginapan serta fasilitas lainnya yang diutamakan.

“Anseleri atau SDM karena SDM sangat diutamakan ketika ini sudah siap maka destinasi layak diperkenalkan kepada wisatawan. Untuk Satria Agrowisata sudah memenuhi syarat,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*