Teater koma (Foto: Baktibudayadjarumfoundation)

Opera Kecoa, Kisah Realita Kehidupan Nyata Dalam Bentuk Teater Koma

IndonesiaNew, JAKARTA – Kehidupan nyata bisa dituangkan ke dalam bentuk apapun termasuk dikisahkan dalam bentuk teater koma.

Menyusul kesuksesannya dalam pagelaran Semar Gugat Maret lalu, Teater Koma yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation mempersembahkan lakon berjudul “Opera Kecoa”.

Produksi ke-146 ini akan dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki mulai dari tanggal 10 hingga 20 November 2016.

Selain mendukung pertunjukan, Bakti Budaya Djarum Foundation juga berpartisipasi dalam program apresiasi seni pertunjukan Teater Koma, yaitu sebuah program yang bertujuan untuk mengajak 200 pekerja seni teater, guru, dan mahasiswa di Jakarta untuk menonton pertunjukan Teater Koma.

Program ini diharapkan memberikan ruang apresiasi bagi masyarakat terutama yang belum pernah menonton karya Teater Koma sebelumnya, sehingga mereka menemukan referensi mengenai sajian artistik serta konsep dramaturgi yang detail dari karya Teater Koma.

“Teater Koma adalah salah satu teater yang masih aktif menghasilkan karya-karya seni pertunjukan hingga saat ini. Dengan kemampuan dalam mengemas seni pertunjukan yang ditampilkan di atas panggung, Teater Koma selalu menghadirkan sajian yang menarik dan menghibur. Konsistensi yang dihasilkan telah menginspirasi para seniman muda Indonesia untuk senantiasa berkarya dan berkreasi,” jelas Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Selasa (8/11/2016).

Opera Kecoa berkisah tentang orang-orang kecil yang menghadapi kenyataan keras. Perjuangan seorang bandit kelas teri, Roima, yang sedang berada di persimpangan jalan. Dia tertarik kepada Tuminah, seorang Pekerja Seks Komersial, meski sudah punya pacar, Julini si waria.

Ketiga orang ini dan tokoh-tokoh lainnya melakoni perjuangan hidup yang hanya punya dua resiko: jadi ada atau tersingkir. Nasib baik jarang memihak mereka.

Tempat mereka seperti sudah digariskan gorong-gorong, di dalam got, di kolong jembatan, di
kawasan kumuh yang jorok, yang gelap dan berbau busuk.

“Lakon Opera Kecoa kembali kami hadirkan di Graha Bhakti Budaya. Berkisah tentang perjuangan kaum minoritas yang hidup menderita, berhimpit-himpit dalam lorong gelap di balik kemegahan gedung tinggi, mencari keadilan dari para pemimpin. Pertunjukan sarat makna ini, kami tampilkan dalam bentuk nyanyian dan gerak khas Teater Koma,” beber Nano Riantiarno, penulis naskah dan sutradara Teater Koma.

Pementasan Opera Kecoa tahun 2016 ini didukung oleh Ratna Riantiarno, Budi Ros, Rita Matu Mona, Dorias Pribadi, Alex Fatahillah, Daisy Lantang, Sri Yatun, Ratna Ully, Raheli Dharmawan, Julius Buyung, Ina Kaka, Ledi Yoga, Dodi Gustaman, Sir Ilham Jambak, Bangkit Sanjaya, Rangga Riantiarno, Adri Prasetyo, Tuti Hartati, Bayu Dharmawan Saleh, Didi Hasyim dan Joind Bayuwinanda.

Opera Kecoa, produksi ke-146 Teater Koma, akan dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, setiap hari pukul 19.30 WIB, kecuali hari Minggu, pukul 13.30 WIB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*