Wisatawan mancanegara saat belanja di Indonesia (Foto: Shutterstock)

Pelaku Pariwisata Kian Dimudahkan Melalui Kredit Usaha Rakyat

IndonesiaNew, BATAM – Kementerian Pariwisata Indonesia dibawah kepemimpinan Menteri Pariwisata Arief Yahya terus menggenjot para pelaku Unit Koperasi Menengah (UKM) guna menghasilkan produk pariwisata berkualitas. Melalui cara seperti inilah bisa membawa dampak perubahan perekonomian di masyarakat, khususnya dari sisi kenaikan devisa negara yang dihasilkan dari kehadiran wisatawan.

Menurut Asisten Deputi Investasi Pariwisata Indonesia Hengki Manurung mengatakan hal tersebut menjadi terobosan baru yang dilakukan dari akhir 2018, di mana sejak lahirnya permenko baru perihal Kredit Usaha Rakyat (KUR) maka pariwisata dimasukkan ke dalam kategori KUR.

“Ada 44 jenis usaha dibiayai dengan biaya dari perbankan, di mana dana yang digelontorkan sebesar Rp25 juta dengan bunga 0,4 % dan 7 % dengan angka maksimal Rp500 juta. Bahkan, sudah banyak digelontorkan mencapai hampir Rp70 miliar. Penggelontoran ini tentu terdapat hasilnya, terlebih ini terus bergulir bukan hanya di kota-kota yang sudah laku dijual dalam hal pariwisatanya, namun juga kota-kota yang sedang berkembang pariwisatanya seperti Labuan Bajo yang sudah digelontorkan sebesar hampir Rp1 miliar dari sisi perkapalan,” ucapnya usai acara Sosialisasi dan Coaching Clinic Kredit Usaha Rakyat (KUR) sektor pariwisata di Hotel Da Vienna, Batam, Kepri, Kamis (2/5/2019).

Diakuinya lagi, sosiasliasi perihal Kredit Usaha Rakyat (KUR) ini telah berjalan di 17 kota yakni 10 kota destinasi prioritas ditambah destinasi-destinasi border tourism.

“Batas dana Rp25 juta hanya butuh KTP dan Kartu Keluarga (KK), koperasi hanyalah badan dasar, yang terpenting memiliki surat ijin usaha, proses peminjaman hanya memakan waktu 2-3 hari. Apalagi, selama ini yang terekam di masyarakat bahwa bunga bank sangat besar namun melalui KUR maka masyarakat tidak memiliki bunga bank yang tinggi,” paparnya lagi.

Dengan mengangkat tema membangun pariwisata Indonesia melalui KUR Pariwisata maka diharapkan bisa melakukan pengembangan di bidang pariwisata.

“Kita melihat sejak 1998 bahwa UKM adalah paling kuat menopang ekonomi. Otomatis, dengan kehadiran KUR ini maka kualitas serta packaging bisa semakin meningkat sehingga daya tarik wisatawan akan lebih banyak datang untuk memborong produk-produk ukm yang berkualitas,” lanjutnya tersenyum.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Batam Ardiwinata menyambut positif dengan adanya sosialisasi Kredit Usaha Rakyat yang diperkenalkan oleh Kementerian Pariwisata. Apalagi, kekuatan Batam berada pada sisi pariwisata, oleh karenanya dengan adanya Kredit Usaha Rakyat ini kian memudahkan pelaku pariwisata untuk senantiasa bereksplore perihal produk yang dimunculkan. Hal ini, tentu membawa dampak baik buat pariwisata Indonesia khususnya di Batam yang bsiap menghadapi era digital 4.0.

“Masyarakat kian bisa berinovasi dalam mengenalkan produknya, secara tidak langsung membawa banyak kemunculan para pelaku usaha pariwisata yang baru sehingga produk lokal Batam terus hadir memberikan warna baru di setiap tahunnya guna kemajuan pariwisata Batam,” tambahnya.

Terakhir, Kepala BRI Unit Jodoh Kanca Batam Center Dr. Aprizal Yusril mengutarakan bahwa system Kredit Usaha Rakyat (KUR) tersebut tidak memberikan beban berat kepada masyarakat. Hanya saja, para pelaku usaha yang ingin bergabung haruslah mempunyai usaha yang sudah berjalan selama 6 bulan.

“Pihak Bank BRI tidak memberikan kesulitan kepada siapapun masyarakat yang ingin melakukan usaha, hanya saja yang dibutuhkan seperti KTP dan Kartu Keluarga, usaha yang sudah diberikan tandatangan pemda setempat, tidak memiliki kredit atau pembiayaan yang bersangkutan dengan bank lain,” tukasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*