Priscilla My Beautiful Fighter, Perjuangan Sang Ayah untuk Putrinya Melawan Kanker

IndonesiaNew, JAKARTA – Keperdulian orangtua terhadap anaknya ditunjukkan oleh Jacobus Dwihartanto selaku ayahanda Maria Priscilla Dwihartanto yang berjuang buat kesembuhan sang anak.

Curhatan Jacobus Dwihartanto ini diungkapkan ke dalam buku yang diberi judul Priscilla My Beautiful Fighter. Terlebih, buku ini mengisahkan perjuangan dirinya kala bersama Maria Priscilla Dwihartanto selama 17 bulan yang divonis oleh dokter terdapat benjolan di bagian kepala anak semata wayangnya tersebut.

“Buku ini menceritakan kisah saya bersama anak saya Maria Priscilla Dwihartanto, selama 17 bulan anak saya mengidap penyakit. Semua ini saya tulis mulai divonis dokter, sakit, obat-obatan yang harus dikonsumsi hingga saya harus me-research penyakit anak saya,” ucapnya di Jakarta, belum lama ini.

Diakuinya, kala di rumah sakit dirinya telah berjanji pada anaknya untuk menuangkannya ke dalam buku. Namun, apa daya di 2013 dirinya sempat berhenti untuk menulis terlebih kala mengingat momen terindah bersama anaknya.

“Semua butuh proses karena bukan perkara yang mudah. Bayang-bayang anak saya selalu melekat dalam diri saya hingga akhir di 2017 saya melanjutkan menulis dan menerbitkannya,” bebernya sambil menangis.

Dalam buku yang telah terjual 10 ribu eksemplar tersebut terdapat gambar kupu-kupu, tentu memiliki arti mengapa dirinya menaruh gambar tersebut.

Baginya, melihat keberadaan anaknya diibaratkan seperti proses sebelum menjadi kupu-kupu. Proses dari kepompong hingga berbentuk kupu-kupu merupakan momentum yang indah, apalagi di usia yang masih muda keindahan Maria Priscilla Dwihartanto masih terlihat.

Masih kuat dalam ingatannya, anaknya tersebut mulai merasakan gejala kala Maria bermain sepeda. Kala itu, dirinya langsung mengungkapkan pada sang bundanya setelah itu Jacobus Dwihartanto langsung bergerak cepat dengan membawanya ke RS Mitra Keluarga hingga akhirnya putri yang menimba ilmu di Santa Ursula harus melakukan operasi sebanyak 6 kali.

“Saat anak saya divonis kanker, rasanya seperti ada petir besar menyambar hidup saya dan istri. Kala itu hanya ada dua pilihan di mana berbicara jujur atau berbohong hingga akhirnya kita sepakat untuk memberitahu kepada anak saya. Kita berjanji berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkannya,” urainya lagi.

Menurutnya, penyakit yang dialami putrinya ini tergolong langka. Pasalnya, untuk seusia putrinya penyakitnya tersebut hanya tiga persen bahkan lebih banyak diidap oleh orang dewasa.

“Buku ini endingnya sangat sedih, tapi bila dibaca berulang kali maka intinya bahwa manusia hidup harus selalu berjuang. Dalam kisah ini adalah soal anak saya yang mengidap penyakit kanker, di sini Maria Priscilla Dwihartanto tetap belajar meskipun menderita sakit. Nikmati buku ini, jangan pernah putus asa karena hidup harus selalu berjuang,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*