Rumah Bolon di Simalungun menjadi salah satu pendukung wisata Danau Tobha (Foto: Marcel)

Rumah Bolon Balutan Sejarah Simalungun Mewarnai Keindahan Danau Toba

IndonesiaNew, SIMALUNGUN – Danau Toba dikelilingi tujuh kabupaten yang ada di Sumatera Utara, salah satunya berada di Kabupaten Simalungun. Keindahan kabupaten ini pun tak kalah jauh dengan Danau Toba.

Kawasan Wisata Nasional Danau Toba mempunyai beragam spot wisata yang berkesan untuk para wisatawan yang datang ke Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Salah satu yang bisa disambangi adalah Rumah Bolon yang terletak di Desa Pematang Purba, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara sekira 200 meter dari jalan umum, 1,5 jam dari Berastagi, dan 30 menit dari Pematang Raya, Kabupaten Simalungun.

Rumah adat khas Simalungun ini merupakan salah satu rumah yang tersisa dari peninggalan Raja Batak Simalungun, yang bermarga Purba. Rumah ini dibangun oleh Raja yang memerintah saat itu. Sesuai fungsinya, pada zaman dahulu Rumah Bolon Pematang Purba adalah kediaman seorang raja yang pernah berkuasa di wilayah Simalungun. Rumah Bolon terdiri dari beberapa jenis, dan rumah adat yang dapat ditemuan di masyarakat Batak yaitu rumah Bolon Toba, rumah Bolon Simalungun, rumah Bolon Karo, rumah Bolon Mandailing, rumah Bolon Pakpak dan rumah Bolon Angkola.

Di Simalungun sendiri, Raja tersebut bernama Raja Purba XII Tuan Rahalim yang merupakan seorang raja yang pernah berjaya di Simalungun pada pertengahan abad ke-19 dan merupakan salah satu raja yang namanya tersohor di Nusantara. Raja Purba dikenal oleh rakyat Simalungun sebagai raja yang sangat piawai dalam memimpin sehingga sosoknya sangat disegani oleh masyarakat. Lantas seperti apakah bangunan rumah adat tersebut? Inilah jawabannya.

Bentuk Rumah Adat

Rumah ini berbentuk panggung dengan tiang besar berupa bulat yang memiliki garis tengah sekira 40 cm sebagai penyangganya. Di sebelah kiri dan kanan tiang rumah ada ukiran yang menggambarkan payudara sebagai lambang kesuburan (odap-odap). Selain itu, rumah ini memiliki ukiran cicak sebagai lambang penjaga dan pelindung rumah (boraspati). Dinding rumah bolon berupa papan setebal 15 cm dihiasi ornamen khas Simalungun warna merah, hitam, dan putih yang menampilkan pandangan kosmologis dan filosofis budaya Batak.

Kepala Dinas Pariwisata Simalungun Pahala Sinaga menjelaskan, di rumah ini terdapat bagian depan atau dalam bahasa bataknya ‘lopou’, di mana tempat ini dipakai untuk memasak makanan tamu yang dilakukan oleh istri raja itu sendiri.

Rumah Bolon di Simalungun (Foto: Marcel)

Tempat ini dinamakan puang pardahan dan di dalamnya terdapat pemasak nasi raja atau dikenal dengan puang poso. Kemudian, terdapat pula kamar tidur raja dengan bentuk rumah kecil yang memiliki atap, dinding dan pintu. Sedangkan di bagian bawanya ada kamar ajudan raja yang dikebiri atau dalam bahasa Bataknya ikasihkon.

“Di bagian dinding sebelah kanan terdapat dua gong (ogung), jika anak raja lahir putri, gong ini dipalu dalam hitungan genap,” bebernya kepada IndonesiaNew belum lama ini.

Simbol

Pada rumah adat ini, biasanya memiliki simbol-simbol yang ditaruh pada rumah tersebut. Di mana, simbol ini menandakan sejumlah raja yang mendiami rumah tersebut sebelum diserahkan kepada Pemerintahan setempat.

Simbol pertama berupa tanduk kerbau, tanduk kerbau pernah digunakan pada upacara adat Simalungun yang dipimpin langsung oleh sang raja. Bahkan jumlah tanduk yang ada di rumah Bolon mencerminkan jumlah raja yang telah memerintah.

“Ukiran khas Batak yang disebut gorga adalah ornamen yang mengandung unsur mistis penolak bala. Ukiran gorga ditempatkan di dinding rumah bagian luar. umumnya ukiran itu berbentuk lukisan hewan seperti cicak, ular ataupun kerbau. Padi dan leher simbol kerbau yang terpasang di ujung bubungan atap, diikatkan seutas tali menggantung dua tatabu (labu berisi ramuan magis) disebut tanjung banu yang berfungsi untuk menangkal petir dan api. Sedangkan atap rumah terbuat dari ijuk,” tambah Pahala Sinaga.

Selain itu, terdapat pula gambar maupun bentuk cicak pada Rumah Bolon. Binatang cicak pada rumah tersebut juga memiliki arti tersendiri. Cicak disebut ‘gorga boraspati’ yang merupakan simbol kebijaksanaan dan kekayaan. Untuk ukuran cicak itu sendiri selalu menghadap ukiran empat payudara (adop-adop), di mana setiap adop-adop mempunyai artinya masing-masing.

Adop-adop yang pertama sebagai simbol kesucian, adop-adop yang kedua sebagai simbol kesetiaan. Adop-adop yang ketiga sebagai simbol kesejahteraan, serta adop-adop yang keempat sebagai simbol kesuburan wanita.

“Munculnya filosofi tersebut bermula dari pengamatan leluhur masyarakat Suku Batak terhadap pola hidup cicak yang bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Ini terlihat dari sifat binatang cicak yang bisa hidup di lantai, di dinding, di lorong, di atap dan di mana saja. Bahkan, leluhur masyarakat suku Batak berharap generasi penerusnya harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya di manapun ia berada,” bebernya.

Suasana Rumah Bolon di Simalungun (Foto: Marcel)

Kehadiran Rumah Bolon di Simalungun mendapat perhatian khusus dari Bupati Simalungun JR Saragih, apalagi buatnya masyarakat tidak boleh melupakan jasa para pejuang yang telah mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selain itu pihaknya terus berupaya menjadikan Rumah Bolon sebagai salah satu destinasi pariwisata yang diminati wisatawan yang berkunjung ke Simalungun.

“Saat ini Rumah Bolon sudah menjadi salah satu daerah tujuan wisata utama di Kabupaten Simalungun disamping Danau Toba dan objek wisata lainnya, namun memang jumlah kunjungan wisatawan yang kesana masih didominasi wisatawan nusantara atau lokal,” ungkap orang nomor satu di Kabupaten Simalungun tersebut.

Sementara itu, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, keberagaman, perbedaan, dan diversity dalam pariwisata akan saling menguatkan. Beda budaya, beda adat istiadat, beda kepercayaan, beda cara berpakaian, beda kebiasaan makanan, beda dialek, tetapi satu dalam komitmen bernegara, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Inilah Indonesia. Inilah pariwisata Indonesia. Keindahan dan keberagaman tersebar di bawah satu naungan, Indonesia,” tukasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*