Sejarah Perdagangan Kapal di Indonesia Bermula dari Sini

IndonesiaNew, JAKARTA – Indonesia dikenal dengan negara kepulauan, tak ayal banyak sejarah lahir melalui kehidupan kapal perdagangan di Tanah Air.

Menurut Horst H. Liebner, Sejarahwan Maritim dan Antropologi mengatakan kehadiran Portugis di abad ke-16 datang ke Indonesia guna memonopoli perdagangan rempah-rempah di seluruh kawasan Samudera India dan Laut China Selatan, tapi keinginan tersebut tak tercapai Portugis.

“Kala itu pusat kekuasaan Portugis berada di Malaka. Kapal-Kapal Portugis bisa mengontrol semua pelayaran yang masuk serta melewati Selat Malaka dan bagian selatan Laut China Selatan,” jelasnya kepada IndonesiaNew, Senin (28/11/2016).

Perdagangan di Pelabuhan Sunda Kelapa (Foto: TripAdvisor)

Perdagangan di Pelabuhan Sunda Kelapa (Foto: TripAdvisor)

Menurutnya, pada abad itu perahu-perahu asal Jawa dan Sumatera kerap berlayar ke China dan India.

Bahkan, di abad pertengahan ke-16 sebagian besar perdagangan internasional diambil oleh kapal China dan Asia Barat. Di mana, tahun 1567 pelayaran jarak jauh diijinkan kembali.

Pada abad ke-16, populasi dunia tak melebihi 7% dari total penduduk pada masa kini.

Artinya, pada masa itu volume permintaan pasar populasi yang jauh lebih kurang itu bahkan lebih kurang lagi daripada rasio volume pasar.

“Selama abad ke-16, per tahun rata-rata Portugis memenuhi sekurangnya setengah dari permintaan pasar Eropa atas rempah-rempah selama kurun waktu 1602 hingga 1700,” paparnya.

Kehadiran kompeni Asia Timur Belanda di pertengahan abad ke-17, kala itu sempat mendirikan monopoli atas perdagangan pala, cengkeh, dan kayu manis yang menguasai lebih dari setengah perniagaan lada dunia di jaman itu.

Lintas perdagangan kapal di Pelabuhan Sunda Kelapa (Foto: Metrotvnews)

Lintas perdagangan kapal di Pelabuhan Sunda Kelapa (Foto: Metrotvnews)

Diakuinya, pengoperasiannya pun tidak lebih dari rata-rata sepuluh pelayaran interkontinental per tahun.

“Bila jumlah pelayaran internasional Nusantara dapat dihitung dalam jumlah belasan, maka jumlah perahu yang meladeninya tidak bisa terlalu besar pula, dan tenggelamnya hanya sebagian dari Armada kapal Nusantara di tangan kapal perang Portugis yang merupakan distorsi yang berarti perdagangan lautnya,” tukasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*